Tingkatan Perasaan Seseorang Menuju Cinta Sejati #4

          Halo saya kembali lagi nih, kali ini saya mau lanjutin postingan tentang tingkatan perasaan seseorang menuju cinta sejati. Walaupun cukup lama stag di fase ketiga tapi bukan berarti saya tidak ingat lho, hanya saja untuk menuliskan fase terakhir ini saya merasa bahwa saya sendiri juga harus merasakan hal yang sama dengan apa yang saya tulis jadi butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa melanjutkannya. Hehehe. Yaudah yuk langsung merapat dan simak pembahasannya berikut ini.

Ikhlas

          Banyak orang yang mengatakan bahwa cinta adalah segalanya tapi bagi saya ada satu hal yang bisa menandingi rasa cinta itu sendiri dan itu adalah rasa ikhlas. Ikhlas kalau saya definisikan adalah merelakan atau melepaskan dan saya tahu tidak semua orang bisa berada di tahap ini. Kebanyakan orang berhenti pada tahap cinta, menganggap bahwa cinta adalah segalanya, hingga akhirnya kebanyakan dari mereka memperjuangkan segala sesuatu atas nama cinta padahal kalau ditelurusi lebih dalam lagi apa yang dilakukannya bukannlah karena cinta.

          Adakalanya kita berada dalam sebuah hubungan yang sebenarnya sudah tidak baik lagi, dalam hal ini maksud saya hubungan tersebut diwarnai dengan pertikaian, percecokan, atau apapun itu yang dapat membuat hubungan menjadi renggang, namun kita berusaha untuk mempertahankan hubungan tersebut dengan alasan kita masih mencintainya. Kita berusaha bertahan pada sesuatu yang sebenarnya tidak membuat kita bahagia, tapi lantaran rasa takut kita mencoba untuk mempertahankannya dan lagi-lagi karena alasan cinta. Sebenarnya yang kita lakukan tidak lebih dari rasa takut. Takut hidup sendiri, takut berpisah, takut mengecewakan orang-orang sekitar, ketakutan-ketakutan itulah yang akhirnya mendorong kita untuk bertahan namun kita atasnamakan sebagai cinta. Mungkin saya bisa katakan bahwa itu hanya sekedar cinta, tapi bukan cinta sejati karena jika cinta itu tidak membuat anda lebih baik maka itu bukan cinta sejati namanya. Cinta sejati hanya datang dari hati yang tulus, cinta sejati bukan berarti harus memiliki, lihat bagaimana matahari tetap memantulkan cahayanya kepada bulan, meski matahari tidak pernah bertemu dengan bulan atau sebaliknya lihat bagaimana sang bulan berganti peran dengan sang surya pada malam hari meski ia tidak pernah bertemu dengan matahari. Mereka tetap bersinar, tetap saling mendukung tanpa pernah bertemu. Seperti itulah cinta sejati, tidak harus memiliki. Pada akhirnya sebuah hubungan akan berujung pada perpisahan, baik itu karena maut maupun karena hal lain dan pada saat itu yang perlu kita lakukan hanyalah merelakan, bukan karena kita tidak berusaha untuk memperjuangkannya justru karena kita ingin bahagia dan melihat orang yang kita cintai juga bahagia maka jalan terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah dengan ikhlas. Mungkin tahap ini agak rumit, karena jujur saja untuk berada di tahap ini dibutuhkan kemantapan hati yang teguh, tapi semoga cinta anda tidak hanya sekedar cinta biasa tapi juga dibalut dengan rasa ikhlas yang tulus.

 

Tentang KJP

 

          Sudah lama tidak memposting apapun akhirnya saya kembali lagi nih. Nah kali ini saya ga mau posting tentang yang galau-galau, masalah percintaan, atau tentang perkuliahan. Topik yang mau saya bahas hari ini adalah tentang berita yang cukup hangat diperbincangkan di media-media yaitu adalah tentang pencairan dana KJP secara tunai .  Kenapa tiba-tiba ngebahas KJP?  karena saya sebagai penerima KJP selam enam tahun merasa terpanggil untuk membahas topik yang satu ini. Oke langsung saja ya.

        Kalian pada tahu donk ya kalau akhir-akhir ini banyak sekali,  baik itu ibu-ibu, bapak-bapak, atau anak-anak remaja yang bolak-bolak ke toko yang ada tulisan “Menerima KJP” bukan untuk belanja melainkan untuk mencairkan dana KJP secara tunai. Sebenarnya tidak semua toko melakukan hal tersebut, ada beberapa toko curang yang melakukannya untuk mendapatkan keuntungan kalau ga salah ya sekitar 10% untuk setiap penarikannya. Jelas hal ini salah, karena sejak Agustus 2015 pendanaan KJP tidak bisa ditarik secara tunai tapi bisa digunakan dengan cara  membeli barang-barang di toko yang terdapat mesin Electronic Data Capture (EDC) Bank DKI atau Debit Prima. Karena banyak sekali penerima KJP yang mencairkannya, bahkan teman saya sendiri melakukannya, saya kira hal ini aneh. Kenapa aneh? Ya karena sebenarnya kalau dipikir-pikir hal itu justru sangat merugikan. Bayangkan jika kalian mau narik uang sejumlah Rp.500.000 berarti 50.000 dari penarikannya diberikan kepada si punya toko. Kan sayang banget, coba kalau kalian beli tas dengan harga Rp.500.000 kalian sudah dapat tas dengan kualitas bagus tanpa dipotong-potong segala. Jadi sebenarnya sistem non tunai dari KJP ini sudah sangat beramanfaat. Contohnya lagi seperti saya. Jadi saya di rumah punya printnan,  tapi jarang saya gunakan karena tinta sama kertas lumayan mahal, alhasil saya harus ngeprint di warnet setiap kali ada tugas sekolah, dan itu cukup menguras uang jajan juga lho. Nah karena saya tau KJP bisa dibelanjakan di Toko Buku Gramedia, saya coba deh beli dan ternyata memang bisa. Dari situ saya mikir, kenapa ga coba bikin jasa printnan dengan harga terjangkau itung-itung bantu teman sekolah lah, lagipula modalnya juga karena dibantu pemerintah, jadi saling membantu gapapa toh hehe, dan uang hasil jasa printnan lumayan buat saya beliin pulsa.

       Nah sebenarnya rugi kan kalau kita nyairin dana KJP, apalagi yang nyairin KJP itu buat beli handphone, padahal sebenarnya handphone lama bisa digunakan atau buat nyicil motor, padahal dana KJP bisa digunakan pada transjakarta atau kalau yang tidak pakai tranjakarta bisa kan beli sepeda, jauh lebih sehat lagi. Terus adalagi orangtua yang ngegunain buat beli emas. Nah yang seperti ini nih yang bikin saya ga habis pikir. Katakanlah emasnya buat investasi tapi masa iya iventasi pakai subsidi pemerintah. Kalau buat beli sembako okelah ya karena KJP sendiri memang sudah bisa dibelanjakan untuk membeli sembako. Selain itu banyak lagi kecurangan-kecurangan yang justru dilakukan oleh warganya sendiri bukan dilakukan oleh pemimpinnya. Dipostingan ini saya tidak bermaksud untuk mendukung siapa-siapa, yang saya dukung tentu pemimpin yang memiliki program kerja yang positif. Saya pun menyambut dengan sukacita terhadap KJP Plus dari program kerja Pak Anies-Sandi yang nantinya bisa digunakan untuk anak putus sekolah juga. Intinya dipostingan kali ini saya hanya ingin menyampaikan kepada para penerima KJP untuk menjadi penerima yang bijak, ya kalau tidak bisa dicairkan ya gunakan dengan benar, kalau toh memang nanti peraturanya diganti lagi dan KJP bisa ditarik tunai seperti semula, ya Alhamdulillah. Pokoknya gunakanlah apa yang diberi oleh pemerintah dengan baik, dan bermanfaat. 😊

Buku Antologi ke-4 (Rintihan Di Tanah Tandus)

Antologi Puisi Rintihan Di Tanah Tandus

Rintihan Tanah Di Tandus adalah buku antologi ke-4 sekaligus buku antologi puisi pertama aku. Ada 75 puisi di buku terbitan Oase Pustaka ini yang pastinya bikin kalian yang baca jadi baper banget, dan salah satunya adalah puisi karya aku yang berjudul Sabtu Malam. Disuguhkan dengan kata-kata yang kaya akan diksi dan sarat akan makna dijamin Rintihan Di Tanah Tandus cocok untuk menemani malam-malam kalian. Nah buat kalian yang mau baca puisi aku dan teman-teman aku lainnya langsung aja ya klik alamat di bawah ini untuk info pembelian.

http://oasegroup.com/rintihan-di-tanah-tandus-detail-308304.html 

Siang Malam

Siang dan malam silih berganti

Dengan sang surya yang akan tetap menggantung kala fajar hingga senja

Dengan dewi malam yang akan tetap terlukis di lembar gulita

Mereka tak pernah bertemu

Tapi cahaya mentari tak pernah padam untuk rembulan

Dan rembulan akan terus bersinar di malam kejam

Diantara pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda Nya

Cinta

Mereka memiliki cinta

Tanpa harus memiliki

Jakarta, 20:53

Sebuah Puisi Menuju Pagi

Matahari begitu menyengat kala siang tapi begitu indah kala senja.

Seperti Itulah perpisahan.

Kita baru menyadari betapa indahnya sebuah kebersamaan setelah semuanya berakhir.

Seperti Itulah kenangan.

Tak bisa kita rengkuh tapi hanya bisa dinikmati untuk sesaat.

Seperti Itulah senja.

Indah, tapi hanya untuk sesaat.

Dan aku benci sesuatu yang sifatnya sesaat

Jakarta, 03:31

Tips Masuk SNMPTN

Yuhuu I’m come back. Setelah cukup lama tidak memposting apapun sejak tiga bulan yang lalu dikarenakan terbelenggu oleh segala macam ujian, baik itu Ujian Sekolah, UASBN, UN, maupun UH ( Ujian Hidup ),  untuk saat ini saya bisa bernafas dengan lega, ya meskipun ujian hidup masih berlangsung hingga sekarang ya tapi saya tetap senang karena akhirnya saya bisa kembali lagi ngoceh-ngoceh di blog saya.

Oh ya ngomong-ngomong saya mau mengumumkan nih kalau status saya sudah berganti status. Status apakah itu? yang pasti sih bukan status nikah, hahaha. Yap! status saya sudah berganti dari yang pelajar SMA dan sekarang sudah menjadi MaBa alias Mahasiswa Baru di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Jakarta dengan program studi Pendidikan Luar Biasa. Oke kalau di postingan kemarin saya telah mengatakan kalau untuk masuk ke sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) itu ada banyak jalur, seperti SNMPTN, SBMPTN, dan Mandiri, nah di postingan kali ini saya mau berbagi sedikt tips untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SNMPTN

Kenapa SNMPTN? Karena saya pribadi diterima melalui jalur SNMPTN, jadi saya lebih banyak mengetahui melalui jalur ini daripada jalur lainnya. Hehehe. Oke daripada kebanyakan ngoceh, langsung simak aja yuk pembahasannya.

SNMPTN adalah salah satu jalur yang selalu diadakan setiap tahunnya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, dimana seleksinya menggunakan nilai rapot. Nah karena nilai rapot digunakan dalam seleksi SNMPTN banyak orang yang berasumsi bahwa nilai rapot adalah point utama dalam proses seleksinya, bahkan tidak sedikit dari teman-teman saya yang beranggapan kalau nilai per mata pelajaran tidak pernah turun akan semakin memperbesar peluang untuk masuk SNMPTN. Kalau saya katakan sebenarnya asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar, karena jujur secara pribadi nilai rapot saya naik turun. Meskipun begitu, nilai rapot tetap menjadi salah satu point penting dalam proses seleksi SNMPTN, hanya saja nilai rapot bukanlah point utamanya. Jadi kalau nilai per mata pelajaran naik turun usahakan rata-rata rapot kalian tidak turun dan satu lagi kalau bisa untuk kalian yang masuk ke dalam peringkat 10 besar di kelasnya pastikan bahwa kalian tidak turun dari peringkat 10 besar tersebut dan buat kalian yang tidak masuk ke dalam peringkat 10 besar jangan khawatir, kalian tetap berpeluang untuk masuk PTN melalui jalur SNMPTN asalkan kalian tetap berkeja keras. Nah kenapa peringkat jadi penentu pada jalur SNMPTN? Pasti kalian bertanya-tanya kan. Sebenarnya peringkat dan juga nilai rata-rata itu digunakan hanya untuk tahap awal proses SNMPTN, dimana tahap awalnya itu adalah pemeringkatan secara paralel untu menentukan 50% siswa terbaik di sekolah. Karena setiap tahun SNMPTN memiliki sistem yang berbeda-beda maka saya anjurkan kalian harus sering–sering ngecek webnya ya. Untuk tahun saya, sebelum siswa-siswa kelas tiga memilih universitas dan juga program studi akan ada proses seleksi antar teman sekolah untuk menentukan 50% siswa terbaik di sekolahnya. Pada tahap ini yang menjadi point utamanya adalah nilai rapot dan juga peringkat, untuk itu saya sangat menganjurkan meskipun nilai per mata pelajaran turun usahakan nilai rata-rata rapot kalian jangan sampai turun, kalaupun turun jangan sampai drastis. Oh ya penentuan kuota untuk siswa terbaik berbeda-berbeda untuk setiap sekolah, penentuan kuota ini didasarkan pada akreditasi setiap sekolah, kalau untuk sekolah berakreditasi A mememiliki kuota 50% untuk tahun 2017 sedangkan tahun 2016 sebesar 75% untuk sekolah akreditasi A. Nah pemeringkatan 50 % ini tidak dilakukan oleh pihak sekolah, melainkan dari pihak SNMPTNnya, tugas sekolah hanya memasukkan nilai-nilaiseluruh siswa ke Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) untuk diseleksi oleh panitia SNMPTN, so jangan tiba-tiba marah ke sekolah ya kalau seandainya kalian tidak masuk 50% terbaik.

Setelah kalian berhasil lolos dalam tahap pemeringkatan paralel, barulah kalian boleh memilih PTN dan juga program studi. Kalau saya katakan ini disebut tahap kedua pada jalur SNMPTN, dimana nantinya kalian akan bersaing tidak hanya teman antar sekolah tapi juga siswa lain di seluruh Indonesia. Nah pada tahap inilah nilai rapot bukan lagi point utama dalam proses seleksinya melainkan strategi yang menjadi penentu utama. Jadi, kalau ada yang bilang bahwa masuk SNMPTN hanya berdasarkan nilai rapot yang menjulang tinggi itu salah, apalagi kalau ada yang bilang hanya karena faktor keberuntungan itu jelas salah besar, sebenarnya untuk bisa masuk PTN melalui jalur SNMPTN  adalah bagaimana kalian bisa membuat strategi secara tepat dan benar.

Nah untuk kalian yang akan memilih PTN  dan program studi saya punya sedikt bocoran nih, usahakan kalian memilih PTN yang dahulunya merupakan PTN yang pernah didapatkan oleh kakak kalas kalian pada jalur SNMPTN. Misalnya dari tahun ke tahun sekolah kalian banyak mendapatkan siswa yang masuk pada jalur SNMPTN dari PTN A, nah untuk memperbesar peluang kalian masuk melalui jalur SNMPTN sebaiknya kalian memilih PTN A juga, apalagi jika program studi yang kalian pilih merupakah program studi yang pernah didapatkan oleh kakak kelas kalian sebelumnya, itu akan semakin memperbesar peluang kalian. Dan yang perlu kalian ingat disini, jangan sampai kalian memilih program studi yang sama di PTN yang sama pula dengan teman sekolah kalian, karena itu akan semakin memperkecil peluang kalian, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga beberapa siswa yang diterima di prodi dan PTN yang sama pula, tapi secara pribadi saya menyarankan agar sebaiknya kalian jangan melakukan hal tersebut karena itu akan sangat beresiko. Tapi yang perlu kalian tanamkan pada diri kalian adalah jangan sampai kalian memilih program studi hanya karena ikut-ikutan, menganggap bahwa prodi tersebut memiliki prospek kerja yang bagus, ingat bahwa setiap program studi itu bagus tergantung bagaimana kita yang mengolahnya, intinya jangan hanya bersandar pada sebuah program studi karena program studi tersebut terkenal di kalangan masyarakat. Semua PTN, semua program studi itu memiliki ladang pekerjaannya masing-masing, jadi tidak perlu ikut-ikutan.

Oh ya satu hal lagi, jangan sampai kalian memilih program studi tanpa pernah tau latar belakang program di yang kalian pilih hanya karena kalian mengincar merek PTNnya sehingga kalian memilih program studi yang sepi peminat tanpa pernah tau bagaimana program studi itu sesungguhnya, karena bisa saja program studi yang kalian pilih itu merupakan program studi incaran dari teman kalian, sehingga memperkecil peluang teman kalian untuk masuk. Ingat jangan egois. Intinya ketika kalian memilih program studi yang perlu dicatat adalah program studi tersebut merupakan passion kalian, minta saran dari orangtua, teman, guru dan yang paling penting berdoa. Ingat semua universitas itu bagus, baik Universitas Negeri maupun swasta.

Oh ya sebenarnya tidak ada yang pernah tau bagaimana proses  seleksi SNMPTN karena dari pihak panitia SNMPTNnya pun tidak pernah memberitahu secara resmi bagaimana seleksinya. Tapi di postingan ini saya hanya berbagi tips berdasarkan pengalaman pribadi saya, jadi initinya semua tergantung dari ketetapan Tuhan Yang Maha Esa dan kerja keras kita.  Ingat banyak jalan menuju roma, kalau kalian tidak lolos pada tahap SNMPTN masih banyak jalur lannya. Jangan pantang menyerah, berjuanglah yang terbaik untuk mimpi kalian dengan cara yang bai-baik pula.

Keindahan Di Masa Lalu

             Pada akhirnya apa yang paling saya takutkan pun terjadi. Semua kecemasan, kekhawatiran, ketakutan telah terakumulasi menjadi sesuatu yang tak bisa saya hindari lagi. Rasa marah, sedih, takut semuanya meluber pada satu jalan yang tampaknya tak berujung. Ternyata benar, sekuat apapun sebuah genggam bila salah satu ingin berpisah, maka genggam itu pun pasti akan terlepas. Saya tak akan bisa menahan untuk lebih lama lagi, seberapa besar pun keinginan saya.

           Disini, dengan langit yang sama  serta dengan embusan aroma pop mie, saya kembali berjalan ke belakang, melihat apa yang selama ini saya lakukan. Hampir semua foto yang ada di folder itu berisi tentang mereka, jadi saya sangat hafal setiap inci kejadian yang ada dalam tiap foto di folder itu.  Semuanya manis layaknya menjilati gulali, dan hangat seperti letupan pocorn. Semuanya indah bila waktu tak berputar. Bukan berarti saya menyalahkan sang waktu. Waktu tetaplah putaran bumi yang berjalan sebagaima mestinya, tapi tiap kejadian yang saya lihat memaksa saya untuk berhenti sejenak, dan terkadang membuat saya lupa bahwa waktu terus melangkah meninggalkan saya.

       Saya harus lekas berjalan, melangkah dan harus meninggalkan apa yang selama ini telah lama ditinggalkan oleh mereka. Kalau tidak, saya akan terjebak dalam angan-angan. Saya tak mau berangan-angan dan tetap berada dalam satu lorong waktu yang tak pernah bergerak. Saya tak pernah ingin itu. Meskipun saya sesekali mengintip ke belakang, dan melihat betapa indahnya disana, saya berjanji tak akan pernah kembali lagi. Tak ada yang bisa diselamatkan disana, kecuali keindahan di masa lalu.

PASSION + EFFORT+ PRAY = SUCCESS

 

          Memilih jurusan kuliah adalah salah satu hal yang paling membuat saya dilema di penghujung SMA ini. Banyak faktor yang membuat saya harus memilah-milah jurusan apa yang saya pilih. Mulai dari segi passion, kemampuan, peluang, prospek kerja dan faktor biaya.  Dari semua yang tadi saya sebutkan, faktor passion dan biaya yang paling saya pertimbangkan. Kalau mungkin kebanyakan teman-teman saya mengalami gejala syndrome almamater, yaitu suatu gejala yang hanya memikirkan merek universitasnya tanpa mempertimbangkan jurusan yang tepat, kalau saya justru sebaliknya. Meskipun saya memikirkan mau masuk universitas mana, tapi saya tidak terlalu mementingkan merek universitasnya, bagi saya yang paling penting adalah bisa belajar sesuai passion dan kemampuan. Nah, mengenai passion sebenarnya saya sudah tau dari awal apa yang menjadi passion saya. Jadi, jauh sebelum saya masuk SMA, saya sudah sangat tertarik dengan profesi wartawan, jadi saya pun mencari berbagai sumber mengenai dunia wartawan mulai dari browsing di internet, tanya ke orang-orang, konsultasi ke orang tua sampai seminarnya pun saya ikutin, alhasil saya pun memutuskan untuk memilih jurusan ilmu komunikasi. Tapi semakin saya berjalan dan seiring waktu berlalu, banyak sebagian orang  dan ibu saya sendiri justru mengatakan kalau saya jauh lebih cocok untuk jurusan psikolog. Kemudian saya berpikir, mungkin ada baiknya juga kalau saya memasukkan jurusan psikolog ke salah satu pilihan prodi saya.

         Oh ya, pasti udah tau kan kalau untuk masuk universitas itu ada banyak jalur, mulai dari SNMPTN, SBMPTN,PMDK,UMP, MANDIRI atau kalau yang mau swasta juga tersedia beasiwa yang berceceran diman-mana. Nah seperti yang sudah saya katakan bahwa faktor biaya adalah salah satu faktor yang cukup saya pertimbangkan. Jadi dari sekian banyak jalur untuk masuk universitas, saya menyandarkan harapan saya pada jalur SNMPTN, yaltu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kenapa? Karena selain pendaftarannya tanpa biaya, uang semesternya pun bisa dibilang tidak terlalu menguras harta. Saya tau sih, kalau peluang di SNMPTN itu susah, ya secara yang ikutan senasional gitu. Kalau saya analogikan, pendaftar SNMPTN itu seperti anak penyu yang dilepas ke laut bebas dan pada akhirnya hanya beberapa saja yang mampu bertahan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sengitnya untuk masuk universitas di jalur SNMPTN.

     Nah meskipun saya telah mengantongi dua jurusan, tapi saya tidak langsung memasukkan begitu saja dua jurusan tersebut. Saya cari-cari dulu mengenai passing grade, daya tampung, dan lain sebagainya mengenai dua jurusan tadi. Setelah saya telusuri, ternyata dua jursusan tadi passing gradenya lumayan menyeramkan. Oh ya saya lupa bilang, kalau keluarga saya tidak memperbolehkan saya untuk kuliah di luar kota. Alasannya bukan karena takut saya ga bisa mandiri, tapi karena ya itu tadi faktor biaya. “Kalau kuliah di luar kota itu kan biayanya gede, belum lagi kostnya, biaya hidup, mana kita itu ga punya saudara lagi, udahlah cari yang di Jakarta aja” itu lah kata-kata yang dikatakan Ibu saya, ketika saya tanya kenapa saya tidak diperbolehkan untuk kuliah di luar kota. Pilihan saya semakin sempit karena faktor biaya, tapi ga apa-apa saya masih punya kesempatan untuk kuliah.

        Oke, balik lagi mengenai masalah passing grade dan lain-lain. Karena jurusan yang saya pilih yaitu ilmu komunikasi dan psikolog passing gradenya lumayan mengerikan, dan ini terjadi di semua PTN yang ada di Jakarta, saya pun mulai ragu untuk memasukkan dua jurusan tadi, akhirnya saya kembali memikirkan jurusan apa yang layak saya masukkan di prodi SNMPTN tanpa meghilangkan passion, bakat, dan peluang. Sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu saya memikirkan kalau apa yang dikatakan teman dan ibu saya ada benarnya, yaitu saya lebih cocok untuk jurusan psikolog. Karena saya sadar kalau ternyata saya lebih sering menganalisa kepribadian orang sebelum saya berinteraksi dengan orang tersebut lebih jauh, selain itu saya juga sering dijadikan tempat curhat untuk teman-teman saya, dan saya juga senang bisa memberikan saran untuk teman-teman saya selama itu positif. Maka dari itu, saya pun mulai tertarik dengan jurusan psikolog dan bahkan saya punya keinginan untuk bisa menganalisa kepribadian anak-anak. Karena menurut saya anak-anak itu punya pikiran yang sulit ditebak, meskipun kelihatannya sederhana tapi entah kenapa menganalisa kepribadian anak itu punya sensasi serta tantangan tersendiri.

          Nah karena beberapa alasan ini, akhirnya saya mulai melirik jurusan pendidikan luar biasa. Sebenarnya saya juga udah kepikiran untuk masukin jurusan ini di salah satu pilihan prodi saya, karena yang saya tau salah satu mata kuliahnya adalah belajar bahasa isyarat, tapi waktu itu cuman selintas aja, karena mikir seru kali ya kalau bisa bahasa isyarat. Tapi setelah saya memilah milah jurusan, melihat berbagai faktor dan peluang, serta minat dan bakat saya, akhirnya saya memutuskan untuk mancantumkan prodi pendidikan luar biasa UNJ di pilihan pertama.

         Setelah saya mengumumkan pilihan saya ke orang-orang mengenai prodi apa yang saya pilih di SNMPTN, responnya macam-macam, ada yang langsung ngetawain saya, diam sejenak sambil menatap saya, dan bahkan ada yang langsung ceramahin saya, kalau saya salah pilih jurusan. Tapi saya ga peduli dengan respon yang saya terima, justru saya bersyukur karena Allah telah menunjukkan jurusan yang tepat dengan kepribadian saya. Saya yakin kesuksesan seeorang tidak diiihat dari jurusan kuliahnya apa, tapi dilihat dari niat, kerja keras dan doa kita. Asalkan kita menekuni satu bidang dengan sungguh-sungguh, tidak peduli jurusan kita apa dan asal kita darimana, kita pasti bisa jadi orang sukses. Intinya, sukses adalah ketika kita bisa menikmati hidup, dan kenikmatan itu bisa kita bagi untuk orang-orang. Jadi buat kalian yang telah memilih prodi, yang mungkin buat sebagian orang sedikit asing, jangan berkecil hati, selama itu masih menjadi passion kalian, berarti kalian telah menaiki tangga kesuksesan kalian. Ingat PASSION + EFFORT+ PRAY = SUCCESS. Oh ya buat kalian yang baca postingan ini tolong doain saya ya supaya lolos SNMPTN 😊😊 Thanks for reading

05:43:32

Ada saatnya kita berhenti berlari dan diam sejenak untuk melihat semesta yang selama ini mungkin luput dari padangan kita. Kemarin tepatnya pukul 05:43:32 waktu fajar saya mencuri sepotong langit. Entah kali keberapa saya menatap langit yang sama, tapi baru kali ini saya menyadari bahwa  langit yang selama hampir tiga tahun telah menemani hari-hari saya, sangat elegan dan juga mempesona.

Biru karabian dengan taburan putih awan, serta sedikit ungu, juga ada tambahan jingga. Komposisi warnanya begitu meneduhkan. Bila saya punya alat ajaib, saya ingin mencuri waktu pada pagi itu lalu memasukannya ke dalam sebuah toples, lalu saya bekukan hingga waktu tersebut tidak dapat bergerak dan kemudian saya pun terjebak di dalamnya dengan mata yang berbinar, serta perasaan bahagia yang meluap-luap. Tapi saya tahu, bahwa setiap waktu yang begitu indah yang terjadi dalam hidup ini hanya akan berakhir sebagai kenangan. Kita hanya mampu mengingatnya dan sesekali menerawang, membayangkan masa indah itu dengan pikiran kita, tapi tidak pernah benar-benar bisa kembali ke masa itu. Sekalipun itu adalah waktu yang paling indah dan berharga yang pernah terjadi dalam hidup kita, faktanya sang waktu tidak pernah bisa menunggu kita untuk terus menyaksikan momen indah itu. Waktu tetap berputar dan kita pun tidak bisa menghentikannya.  Itu adalah fakta hidup yang menyedihkan sekaligus membahagiakan untuk saya. Sedih, karena saya tidak bisa kembali ke masa-masa indah. Bahagia, karena artinya akan selalu ada harapan baru setiap harinya.

Disini, di malam yang semakin menua dan juga nyamuk yang semakin menggila saya ingin mengungkapkan rasa syukur saya kepada Sang Maha Pencipta yang luar biasanya menciptakan langit dengan sangat detilnya, sangat menabjukan dan semua kata pujian yang tak bisa saya terjemahkan ke dalam kosakata karena begitu hebatnya Dia menciptakan langit dan juga seluruh semesta beserta isinya, Subhanallah, Maha Suci Engkau, terimakasih atas maestro-Mu ya Rabb.

Untuk Itu Kau Hidup

  Mimpi itu datang kembali. Menghampirimu yang tengah lelah. Ia kembali meletup-letup setelah sekian lama redup, untuk itu kau tetap ingin hidup. Kadang mimpi itu bisa sedekat urat nadimu, tapi mengapa rasanya jemarimu susah untuk menjamahnya. Entah karena jari-jarimu yang pendek atau langkah kakimu yang masih diam di tempat, entahlah aku tak tahu, tapi  euforia mimpimu terus melapisi inti hatimu yang telah lama kedinginan di kutub sana.  Meski pagi selalu berat di matamu, tapi mimpimu bagai alarm yang terus membangunkanmu.

     Untuk itu kau hidup, karena mimpi membuatmu bisa melihat apa yang tidak mereka lihat. Ketidakwarasanmu membuatmu melihat ketidakmungkinan menjadi sebuah harapan. Hanya seorang pemimpi yang bisa melihat itu, yang lain tidak. Hanya seorang pemimpi yang bisa melihat satu bintang menjadi gugusan bintang, dan itu kau. Percayalah bahwa mimpimu itu, lahir, hidup dan berkembang dalam setiap jejak langahmu. Ia punya nyawa karena kau berani menghidupkannya.

              Dia dan mereka hanyalah manusia yang telah lama menggugurkan mimpinya. Mereka adalah orang dewasa yang terjebak dalam otak yang sempit dan mengatasnamakannya dengan realitas. Realitas apa yang mereka maksud? Menjalani hidup seperti orang lain harapkan? Berusaha sempurna di mata yang lain tapi mengabaikan harapan dan mimpi-mimpi? Itukah realitas yang mereka maksud? Bukankah karena mimpi kita justru tau arah dan tujuan? Bukankah mimpi adalah alasan kita bangkit setelah kita terjatuh? Tapi dia dan mereka justru mengabaikan mimpi itu. Mimpi adalah anugerah yang dikirim oleh-Nya untuk membuat kita hidup di atas bumi ini, dan untuk itu kita bersyukur dalam setiap karunia-Nya.